Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Juni 2008

selayang

Selayang Pandang Museum Telekomunikasi

Museum Telekomunikasi diresmikan tgl. 20 April 1991 oleh Presiden RI Bapak Soeharto waktu itu. Museum Telekomunikasi ini didirikan bertujuan untuk memberikan gambaran tentang :

·Perkembangan teknologi pertelekomunikasian Indonesia.

· Peranan telekomunikasi dalam menunjang perjuangan dan pembangunan bangsa.

· Keberhasilan pembangunan di bidang telekomunikasi dalam rangka pembangunan nasional dan peran sertanya mewujudkan Wawasan Nusantara.

Telekomunikasi terdiri dua kata yakni Tele dan Komunikasi. Tele berarti jauh dan Komunikasi artinya pertukaran informasi. Pertukaran ini dapat saling memberi dan atau menerima, sedangkan informasinya dapat berupa bentuk tanda-tanda, isyarat, tulisan, gambar dan bunyi/suara. Karena jaraknya jauh maka diperlukan media/alat untuk penyampaiannya yaitu melalui sistem kawat, optic, radio atau sistem elektromagnetik lainnya.

Sejarah Telekomunikasi

Di Indonesia, yang dahulunya lebih dikenal dengan nama Nusantara memiliki banyak Kerajaan, salah satunya adalah Kerjaan Majapahit yang memiliki Mahapatih yang bernama Gajah Mada. Singkat cerita, Mahapatih Gajah Mada kemudian bersumpah tidak akan beristirahat dengan tenang sebelum mempersatukan nusantara. Sumpah ini menginspirasi PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk untuk berupaya mempersatukan nusantara dengan pembangun jaringan telekomunikasi sampai kepelosok daerah. Inspirasi ini kemudian menjadikan nama Sumpah Palapa diabadikan untuk salah satu nama Satelit kita yaitu Satelit Palapa.

Alat Telekomunikasi Masa atau yang lebih dikenal dengan Alat Telekomunikasi Tradisional antara lain :

1. Kentongan; Penyampaian berita ini dilakukan dengan memukul. Dengan nada pukulan tertentu memberitahukan kepada masyarakat bahwa ada pencurian, kebakaran, turun ke sawah dan sebagainya. Metoda ini masih dipertahankan sampai dengan sekarang walaupun menggunakan nada pukul masih digunakan sampai dengan sekarang untuk menjaga keamanan lingkungan.

2. Sangkakala; alat ini terbuat dari rumah siput besar. Biasanya terdapat di daerah pesisir pantai Indonesia bagian Timur. Alat ini digunakan oleh pimpinan suku untuk mengumpulkan rakyat guna keperluan tertentu.

3. Bendera Semaphore; pertama kali digunakan di Perancis untuk komunikasi antar 2 kapal di lautan.

4. Beduk; digunakan sebagai penyampai pesan waktu sholat atau waktu shalat Idul Fitri tiba.

5. Lonceng; digunakan sebagai penanda waktu Misa Minggu untuk umat Kristen.

6. Gong/Bende; biasanya tergantung kesepakatan komunikasi daerah setempat, untuk berkumpul, berperang atau untuk menandakan dibukanya suatu acara.

7. Tifa; alat ini biasanya ditabuh untuk uparaca-upacara adat tertentu.


Kamis, 05 Juni 2008

Sejarah

sejarah pendirian museum telekomunikasi

Pada tahun 1986 saat Gedung Kantor Pusat PERUMTEL di Jl. Japati Bandung Sedang dibangun, muncul ide untuk meletakkan barang-barang dokumentasi telekomunikasi di Lantai Dasar Gedung tersebut untuk dipamerkan.

Ide ini kemudian berkembang karena Para Pimpinan PERUMTEL saat itu menghendaki agar barang-barang tersebut (yang sebagian besar berupa perangkat telekomunikasi ”Tempo doeloe” dapat dinikmati oleh masyarakat perkembangan teknologi telekomunikasi, sehingga muncullah keinginan untuk membuat sebuah museum yang lebih representatif.

Tahun 1987

Dibentuk tim untuk mengkaji banding permuseuman ke USA, Jepang dan beberapa negara Eropa lainnya. Tim kemudian membuat proposal pembangunan museum lengkap dengan bangunan, diorama, model berskala, theater, audio visual, maket dan visualisasi grafis yang menggambarkan pertelekomunikasian di Indonesia.

Tanggal 23 April 1988

Ibu Tien Soeharto selaku Ketua BP3 TMII menyetujui desain Museum Telekomunikasi dan mengharapkan kepada Pimpinan DEPARPOSTEL untuk menindak-lanjuti pembangunnya di TMII.

Tanggal 25 Juli 1988

MENpaRPOSTEL Soesilo Soedarman melalui Surat Keputusan Menteri Nomor : KM49/KP403/MPPT-88 menunjuk Ir. Willy Moenandir sebagai Kepala Proyek Pembangunan Museum Telekomunikasi.

Tanggal 16 Februari 1989

Kontrak dengan Konsultan Perencana PT ASTRON Polaris Engineering dan PT Adwitya Alembana untuk merencanakan filosofi dan detail Materi Peraga.

Tanggal 11 Agustus 1989

Penandatanganan kontrak pembangunan fisik gedung dengan PT Citra Janesia Persada.

Tanggal 27 September 1989

Peletakan batu pertama tanda dimulainya Pembangunan fisik Gedung Museum Telekomunikasi oleh MENPARPOSTEL Soesilo Soedarman.

Tanggal 20 April 1991

Peresmian Gedung Museum Telekomunikasi oleh Presiden RI Bpk. Soeharto.